Senin, 04 Maret 2013

Nilai Luhur Pendidikan di Indonesia

Hancurnya Nilai Luhur Pendidikan Nasional di Indonesia Maraknya sebuah trend ditengah-tengah masyarakat tidak semuanya bisa menjadikan sesuatu yang menguntungkan untuk sebuah perkembangan positif bagi psikologi sosial dalam kemasyarakatan umum yang berkembangan. Kini kita semua saat ini sedang dihadapkan oleh sebuah fenomena hitam dan putih yang memburamkan nilai-nilai keluhuran pada dunia pendidikan nasional kita sendiri. Ramai dan menjadi trend dikalangan pelajar maupun mahasiswa saat ini yaitu tawuran antar pelajar maupun tawuran antar mahasiswa selalu sering terjadi. Dan pada umumnya disebabkan akibat narkoba, miras, pornografi, pergaulan yang terlalu bebas juga adanya gesekan-gesekan kecil yang menjadi dibesar-besarkan didalam lingkungan psikologi sosial pada diri mahasiswa maupun pelajar itu sendiri. Selain itu disebabkan oleh adanya budaya-budaya asing yang tidak terfilter dengan cerdas dan kreatif didalam penerimaannya. Budaya-budaya asing yang masuk melalui perkembangan teknologi modern yang begitu pesat dengan mudahnya diterima dan di ikuti tanpa ada sebuah upaya pemilahan yang jernih dalam pola kecerdasan untuk memahami dan mengikutinya. Semuanya mudah diterima dalam rangka mengikuti trend yang berkembang. Tawuran pelajar maupun mahasiswa yang sering terjadi di dunia pendidikan nasional kita juga disebabkan karena kurangnya pemantapan dan ketetapan paten akan kurikulum pembelajaran yang mengarah kepada penguatan nilai-nilai Agama juga nilai-nilai idiologi Pancasila yang suci bagi bangsa ini. Perkembangan nilai-nilai pendidikan nasional yang ada pada bangsa ini hanya lebih terfokus kepada upaya peningkatan nilai-nilai pendidikan nasional yang berbasis kepada perkembangan terknologi global semata yang lebih banyak menguat kepada kekuatan Liberalisme berlebihan. Selain itu penyebab maraknya tawuran pelajar atau mahasiswa di dunia pendidikan nasional Indonesia saat ini adalah, kurang kompetennya para pelaksana dunia pendidikan itu sendiri, hal itu bukan semata-mata karena kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, akan tetapi SDM (Sumber Daya Manusia) pelaksana pendidikannya yang kurang produktif, kreatif, inovatif dan juga kurangnya memiliki pemahaman akan pengamalan nilai-nilai Agama serta nilai-nilai idiologi Pancasila itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar